Kamis, 04 Oktober 2018


Hikmah di Balik Musibah

 Adanya gempa, dan tsunami, bukanlah terjadi secara alami semata. Akan tetapi itu semua tidak lepas dari kekuasaan Allah Swt. Jangan sampai diri kita menjadi orang-orang sekuler, yang meniadakan peran Allah dalam setiap kejadian dimuka bumi ini.


Allah Swt dalam surat Al Hadid ayat 22 menjelaskan “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. “

Iman kepada taqdir merupakan bagian rukun iman. Terjadinya gempa dan tsunami itu, ternyata sudah tertulis di kitab lauhul mahfudz. Bagi orang yang beriman ketika beriman kepada perkara ini akan mendatangkan ketenangan, keridhaan. Dengan begitu Allah Swt akan memberikan balasan atas musibah yang ditimpanya dan bisa jadi Allah akan mengganti yang lebih baik dari padanya. Tapi ada syaratnya selama mereka bersabar.


Allah Swt juga mengingatkan dalam surat At Thaghabun ayat 11 bahwa “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ujian Keimanan 


Ujian itu adalah suatu kepastian, dengannya akan diketahui mana orang-orang yang shadiq dan yang kadzib. Allah Swt berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 155, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. “


Macam-macam ujian yang terdapat pada ayat di atas ternyata menimpa kepada saudara-saudara kita di Palu dan Donggala. Mereka ditimpa rasa takut dengan adanya gempa susulan, belum lagi adanya tsunami. Mereka kelaparan kekurangan bahan makanan. Mereka kehilangan harta benda, rumah, dan kendaraan. Mereka kehilangan saudara yang meninggal.



Rasulullah Saw memberikan sebuah motivasi, “Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, sakit, kebingungan, kesedihan hidup, atau bahkan tertusuk duri, kecuali Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Muttafaq Alaih).


Dalam hadits yang lainnya Rasulullah Saw juga bersabda,  “Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?” Mereka berkata, “Benar.” Allah berfirman, “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Mereka menjawab, “Benar.” Allah berfirman, “Apa yang diucapkan oleh hamba-Ku saat itu?” Mereka berkata, “Ia memujimu dan mengucapkan istirja’ (innaa lilaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).” Allah berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku di surga, dan namai ia dengan nama baitul hamdi (rumah pujian).” (HR. Tirmidzi)


Bencana Sebagai Adzab

Bencana datang juga bisa karena kemurkaan Allah kepada hamba-hambanya. Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk mengadakan perjalanan, kemudian memikirkan akibat yang diterima bagi orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya.


Allah Swt berfirman dalam surat an nahl ayat 36, “Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). “

Kebaikan dan keburukan yang terjadi dimuka bumi ini tidak lepas dari hukum kausalitas. Ada sebab dan akibatnya. Allah Swt berfirman dalam surat al A’raf ayat 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”


Dari ayat diatas syarat kalau penduduk suatu negeri itu menjadi negeri yang berbarakah adalah iman dan taqwa. Tetapi sebaliknya Allah akan menimpakan bencana kepada mereka disebabkan karena mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya.



Bahkan datangnya musibah atau bencana itu tidak melihat waktu, bisa malam atau siang. Maka sebagai hamba-hamba Allah sudah seharusnya senantiasa waspada jangan sampai menantang Allah Swt.


Allah Swt memberikan peringatan dalam surat al A’raf ayat 97, “Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?”


Allah Swt memberikan peringatan kembali dalam surat al A’raf ayat 98, “Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?”


Kemudian Allah menegaskan kembali dalam surat al A’raf ayat 99, “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”


Orang yang beriman, mereka senantiasa takut kepada Allah. Dampak dari rasa takut ini akan senantiasa menjauhi kemaksiatan, karena akan bisa mengundang adzab. Sebaliknya mereka akan senantiasa berbuat ketaatan kepada Allah dan Rasulnya.


Musibah Sebagai Tadzkirah 
Zaman now, teknologi luar biasa. Kejadian di Palu dan Donggala langsung diakses ditempat yang lain. Padahal secara domisili jauh disebrang lautan, beda kota, beda pulau. Rasa empati kita diketuk untuk peduli kepada mereka. Apalagi sebagai seorang muslim itu ibarat seperti satu tubuh.

Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang membantu seorang Muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada Hari Kiamat. Dan barang siapa yang meringankan (beban) seorang Muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat” (HR. Muslim)


Peristiwa yang terjadi di Palu dan Donggala ada sebuah pelajaran yang besar bagi umat ini. Disana Allah Swt menunjukkan kemahakuasaannya. Bagi umat ini hendaklah senantiasa melakukan intropeksi diri. Jangan sampai bencana itu terulang kembali.


Saudara-saudara kita di Palu dan Donggala menanti uluran tangan kita. Itu sebagai bukti keimanan kita. Ketika iman kita normal, tentu akan menggerakkan diri ini untuk membantu mereka. Laksana tubuh kita yang normal, ketika ada satu anggota tubuh yang sakit maka anggota yang lainnya akan segera mengobatinya.


Batas minimal rasa empati kita adalah mendoakan mereka. Mudah-mudahan Allah segera menghilangkan bencana ini. Doa seorang muslim untuk saudaranya, tanpa sepengetahuannya,adalah mustajab (pasti dikabulkan).


Rasulullah Saw bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali orang muslim itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata, “Amin (semoga Allah mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa.” (HR. Muslim)


Ditulis : Anwar Ihsanuddin S.Pd