NGGAK
SUSAH KOK..."
Menuju Allah itu ternyata TIDAK perlu pakai
metoda-metoda yang khusus dan sulit, atau melalui tafsiran-tafsiran yang rumit.
Menghadap Allah tidak perlu seperti orang yang berada di bisnis multi lever
marketing. Kita tidak butuh adanya up line atau down line. Menghadap Tuhan itu
juga tidak perlu seperti kita melamar pekerjaan. Dalam melamar pekerjaan
mungkin kita masih memerlukan rekomendasi dari orang-orang penting, atau juga
ditanya tentang pengalaman kerja kita. Akan tetapi untuk menghadap Tuhan, kita
hanya diminta datang menghadap kepada-Nya, walaupun saat itu kita penuh dengan
kekotoran. Ya…, dengan kekotoran kita, menghadaplah kepada Tuhan. Dalam
menghadap Tuhan, kita tidak perlu adanya avatar-avatar (perantara-perantara,
wasilah), malah kita tidak perlu bersih-bersih diri dulu dari dosa atau
kesalahan kita. Menuju Tuhan itu tidak perlu membawa-bawa pengalaman baik kita
selama ini. Menuju Tuhan itu tidak usah begini dan begitu. Karena Allah itu
adalah sumber dari segala sumber, Rabbul ‘Alamin…
Karena Dia adalah Rabbul ‘Alamin, maka:
Tuhan itu bukan hanya Tuhan bagi orang-orang yang beriman saja,
Tuhan itu bukan hanya Tuhan bagi orang-orang yang rajin ke masjid saja,
Tuhan itu bukan hanya Tuhan bagi orang-orang yang baik-baik saja,
Tuhan itu bukan hanya Tuhan bagi orang "beragama Islam" saja,
Akan tetapi:
Tuhan itu adalah juga Tuhan-nya pelacur,
Tuhan itu adalah juga Tuhan-nya orang brengsek,
Tuhan itu adalah juga Tuhan-nya orang orang geblek,
Tuhan itu adalah juga Tuhan-nya orang orang bingung,
Tuhan itu adalah juga Tuhan-nya orang orang stres.
Tuhan itu adalah juga Tuhan-nya orang yang tersesat,
Tuhan itu adalah juga Tuhan-nya orang Kristen,
Tuhan itu adalah juga Tuhan-nya orang Hindu,
Tuhan itu adalah juga Tuhan-nya orang Budha,
Tuhan itu adalah juga Tuhan-nya semua manusia…
Jadi wahai orang stress datanglah kepada Tuhan. Hai pelacur..., hai orang
geblek..., hai orang tersesat..., hai orang bingung... datanglah kepada Tuhan.
Begitu juga, wahai orang Kristen, Hindu, Budha, dan wahai semua manusia, datanglah
dengan lurus kepada Tuhan secara sendiri-sendiri…, sebagaimana kamu dilahirkan
pada awalnya.
“… Dan (katakanlah): "Luruskanlah mukamu di setiap shalat dan sembahlah
Allah dengan mengikhlaskan keta`atanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah
menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali
kepadaNya". (Al A’Raaf 29)
Karena dengan konsep sesederhana ini, maka sebenarnya kita tidak perlu lagi
minta-minta tolong kepada orang lain untuk menghadap Allah. Kita tidak perlu
lagi peran-peran perantara sebelum kita bisa menghadap Wajah Allah. Bahkan kita
tidak perlu pula melakukan bersih-bersih hati (tadzkiyatunnaf) terlebih dahulu
sebelum menghadap Tuhan. Walaupun dengan sebelah kaki dan terseok-seok pula,
kita datanglah kepada Allah mengadukan kegelapan hati kita, mengadukan
kebrengsekan kita, mengeluhkan kebingunan kita, agar supaya Allah mencerahkan
kita (diberi-Nya Nur), agar kebingungan, agar kedurhakaan kita DIBALIK oleh
Allah seperti Allah membalik ketidakberdayaan Yusuf menjadi kekuatan yang
dahsyat saat menghadapi gejolak nafs (diri) nya ketika Yusuf sedang berhadapan
dengan godaan penuh syahwat Siti Zulaiha. Pertolongan Allah-lah yang telah
melepaskan Yusuf dari cengkraman gejolak syahwat perempuan itu. Karena memang
Allahlah Sang Waliyyan Mursyida.
Jadi…, ketika kita panik, ketika kita stress, kita hanya berucap sederhana
lembut (tadarru): “Ya Allah terangi saya, wahai Tuhan terangi saya, wahai Tuhan
terangi saya…”, lalu kita diam menunggu jiwa atau dada kita diterangi oleh
Allah. Sebagai barometernya, dapat kita ukur dengan apakah ada pencerahan Tuhan
itu datang kepada kita, adakah pencerahan itu merasuk kedalam dada kita. adakah
enlightmen yang muncul sehingga kondisi gelap (zulumat) di dada kita berubah
menjadi terang benderang (nur). Karena Dia-lah yang menurunkan sakinah
(ketenangan) ke dalam hati orang mukmin.
Pangeran
Mbeling
Tidak ada komentar:
Posting Komentar